Cuplikan 4 : Si Tanpa Wajah
Ah, alangkah menyenang bisa jalan-jalan ke Matur nanti. Selain ke pasar, Ayah berjanji membawa aku melihat menara yang gagah itu dari dekat. Selama seminggu aku tidak sabar menunggu hari bertukar jadi Kamis, satu-satunya hari pasar di Matur. Di malam Kamis aku bergolek-golek resah, menunggu subuh datang. Akhirnya hari yang dijanjikan datang jua. Aku cepat-cepat memakai baju lebaran tahun lalu, yang telah aku lipat di sebelah dipan sejak kemarin. Baju ini menyerupai seragam tentara berwarna hijau. Saku di dada dan perut serta cantolan di kedua bahu.
Ayah sendiri tampil dengan kemeja biru pupus polos, menyampirkan sarung bugis merah yang terlipat di bahu kanannya dan sebuah kopiah hitam menyongkok kepalanya. Inilah standar gaya ninik mamak—pemuka adat. Ayahku memang bergelar Katik Parpatiah Nan Mudo dari suku Chaniago. Setelah menyantap sarapan goreng pisang raja dan katan jo karambia sajian Amak, kami menuju jalan aspal satu-satunya yang melintas di daerah Maninjau. “Ayo bergegas, pagi ini hanya ada satu bus ke ateh.” Ateh adalah sebutan untuk semua daerah di atas bukit dan di sekitar Gunung Merapi dan Gunung Singgalang.
Hari masih terang-terang tanah, ketika kami menumpang bus PO Harmonis yang bermesin diesel, berukuran sedang, berkerangka kayu dan punya jendela yang berumbai-rumbai merah kuning orange, mirip hiasan pelaminan minang.
Tidak lama kemudian, bus sampai di kaki Kelok Ampek Puluah Ampek, sebuah jalan mendaki tajam dan mengular dengan 44 belokan patah-patah. Terkenal sebagai pengocok perut yang ganas bagi penumpang yang berbakat mabuk darat. Bus ukuran berkapasitas penuh ini menggerung-gerung ketika dipaksa mendaki tanpa henti selama setengah jam lebih. Asap hitam mesin diesel bus berukuran sedang ini meletup-letup dari knalpotnya.
Waktu itu, belum banyak bus yang punya tape untuk memutar kaset Elly Kasim. Pengganti hiburan diperjalanan adalah adalah klakson yang bisa bernyanyi. Di sebelah supir ada tut-tut yang terhubung dengan slang ke badan mesin. Setiap tut membunyikan nada berbeda mirip campuran suara klakson dan akordeon. Sepanjang jalan, aku mataku tak lepas memperhatikan tingkah supir kami, seorang laki-laki muda berkaos merah ketat dengan celana bahan cut bray dan berambut sebahu bergombak-gombak. Sambil meneleng-nelengkan kepalanya berirama, supir kami menghibur penumpang dengan memainkan instrumental lagu-lagu pop minang memakai klakson ini. Stokar, atau kenek, meliuk-liuk mengikuti alunan lagu sambil menggantungkan badannya di luar badan bus yang berlari kencang. Bus kami penuh sesak, kenek harus di luar. Lagu klakson inilah yang membantu aku melupakan mual yang mendesak-desak.
Kami melewati Ambun Pagi, sebuah nagari di puncak dari kelok 44. Melihat ke bawah, tampak Danau Maninjau adalah sebuah cerukan kawah purba, mirip kuali raksasa, dengan dinding sekelilingnya adalah bukit hijau berbaris-baris. Air biru telaganya yang hening memantulkan awan pagi yang menggantung di ujung-ujung bukit. Betul-betul sebuah kombinasi yang permai. Air menghampar luas dan bukit menjulang. Biru dan hijau perawan.
Kami sampai di Matur ketika matahari masih belum sepenggalahan. Matur yang berada di pucuk bukit, masih di kepung kabut pagi yang tebal dan angin yang datang dan pergi. Pori-poriku bintil-bintil menahan dingin. Untunglah Amak telah membekaliku dengan baju hangat.
Pasar yang kami tuju ternyata adalah sebuah tanah lapang yang tidak berujungnya karena kabut yang hilang timbul disapu angin. Hanya tampak bayangan sapi, kerbang, kuda dan kambing serta bayang-bayang manusia tanpa rupa keluar masuk berlapis-lapis kabut. Tidak ada los pasar. Kadang-kadang terdengar bisik-bisik manusia, selebihnya embekan dan lenguhan hewan ternak.
Ayah membimbingku semakin mendekat kepada salah satu bayang-bayang tanpa wajah. Semakin dekat semakin jelas orang itu seorang laki-laki yang berkelumun sarung sampai leher dan memakai sebo, penahan dingin dari jalinan wol yang menutupi seluruh kepala kecuali mata. Tangan kirinya memegang tali yang ujungnya dicucukkan ke hidung seekor sapi yang melenguh malas. Jari telunjuk dan jempolnya menjepit sebatang rokok yang berpijar-pijar di tengah kabut. Setelah aku perhatikan lebih seksama, lebih dari setengah orang yang datang ke pasar ini bersarung dan ber-sebo. Beberapa orang memakai kopiah hitam.
Sejenak ayah berbicara dengan lelaki ini dengan suara rendah. Si Tanpa Wajah menjawab dengan suaranya parau dan sesekali terbatuk. Tidak lama kemudian ayah menyodorkan tangan bersalaman. Laki-laki misterius ini menangkap telapak tangan Ayah dan cepat-cepat menariknya ke dalam sarungnya. Lama sekali mereka bersalaman, tangan keduanya bergoyang-goyang di balik sarung. Muka saling menatap, tapi tidak ada kata yang terucap. Hanya angguk dan gelengan ringan. Aku mencengkram lengan kiri Ayah, tidak nyaman dengan apa yang aku lihat....
Negeri Lima Menara adalah novel pertama A. Fuadi. Diterbitkan Gramedia pertengahan Agustus 2009. Novel ini bagian pertama dari trilogi.
Subscribe to RSS Feed

Riri Riza
KH Hasan A. Sahal, Pimpinan Pondok Modern Gontor, Ponorogo
Farhan, Penyiar dan Pembawa Acara
Bill Liddle, profesor ilmu politik,
Helvy Tiana Rosa, Sastrawan dan Dosen Fakultas Bahasa dan Seni UNJ
Novelnya inspiratif dan dibumbui humo...
Saya hanya bisa mengatkan "GREAT&...
Buku yang ke-3 kapan terbit ?
Pengen ke Sumatera Barat deh jadinya
walau saya bukan dari pondok pesantre...