Teng…teng…teng…teng…Suara lonceng besar di depan gedung pertemuan bergema sampai jauh. Belum lagi gaungnya padam, semua penjuru sepi senyap, tidak ada orang satupun. Kami berpandang-pandangan dengan kalut. Kalau mengikuti qanun yang dibacakan tadi malam, lonceng 4 kali di jam 5 artinya adalah tanda semua aktifitas harus berhenti dan semua murid sudah harus ada di masjid dengan pakaian rapi dan bersarung.
Jangankan duduk manis bersarung di masjid. Kami masih menggotong lemari di tengah lapangan. Artinya kami telah melawan perintah lonceng, alias terlambat. Dari kejauhan, aku lihat asrama kami seperti rumah hantu, kosong, sepi, tak satu jiwa pun. Pasti mereka semua telah ada di masjid, sesuai aturan waktu kegiatan yang disiplin.
Kami seperti sekawanan tentara yang terjebak di padang terbuka, tanpa perlindungan sama sekali. Kami telah dengan telak melanggar qanun di hari pertamanya berlaku. Aku hanya bisa berharap, sebagai murid baru kami bisa dimaafkan terlambat barang 5 menit. Lagi pula, sejauh ini tidak ada petugas keamanan yang mencegat kami.
“Ayo lebih cepat”, seru Said di posisi paling depan. Posisinya seperti pelari sprint yang memimpin paling depan. Ringan, enteng, cepat.
“Kumaha cepat, ini beratnya minta ampun”, balas Atang, sambil menggerutu. Dia menyeret lemarinya di tanah. Raja tidak bisa menyembunyikan bahasa aslinya, yang terdengar hanya “bah, bah, bah” berkali-kali.
Aku, Baso dan Dulmajid mendengus-dengus dari belakang.
“Tenang akhi, sebentar lagi kita akan selamat. Asrama hanya tinggal 100 meter lagi.Insya Allah tidak akan kena hukum. Sedikit lagi…” kata Said dengan optimis memberi kami harapan.
Harapan yang terlalu indah. Tiba-tiba....wusss...... Sebuah bayangan hitam berkelebat kencang dan berhenti mendadak di depan kami yang sedang ngos-ngosan. Sebuah sepeda legam berkilat-kilat. Jejak rodanya membentuk setengah lingkaran menghalangi jalan kami.
“Qif ya akhi....BERHENTI SEMUA,” suara keras mengguntur membuat kami terpaku kaget. Rasanya darah surut dari wajahku. Gerimis semakin rapat. Langit senja semakin kelam.
Duduk tegap di sadel sepedanya, kami melihat seorang laki-laki muda, berjas hitam, berkopiah, sebuah sajadah merah tersampir di bahu kirinya. Di dadanya tersemat sebuah pin perak bundar berkilat bertuliskan “Kismul Amni”—Bagian Keamanan. Kalau ini film Cowboy, dia adalah seorang sheriff berwajah keras yang siap mengokang pistolnya. Dengan enteng dia meloncat dari sadel. Sepedanya diberi kaki. Langkahnya cepat menuju kami. Sret..sret..sret, sarungnya tidak mempengaruhi keligatan gerakannya.
Negeri Lima Menara adalah novel pertama A. Fuadi. Diterbitkan Gramedia pertengahan Agustus 2009. Novel ini bagian pertama dari trilogi.
Novelnya inspiratif dan dibumbui humo...
Saya hanya bisa mengatkan "GREAT&...
Buku yang ke-3 kapan terbit ?
Pengen ke Sumatera Barat deh jadinya
walau saya bukan dari pondok pesantre...